DIKALA
RUHKU BERTEMU DENGANNYA…
Aku
adalah siswa SMA yang baru masuk, tidak semua siswa bernasib buruk sepertiku.
Semua
ini berawal dari 1 tahun yang lalu, ketika aku baru saja mengalami korban
keegoisan orang tua. Entah mengapa mereka memilih perceraian sebagai solusinya.
Hari itu, perasaanku sangat kalut dan aku tak tahu harus bagaimana. Aku hanya
bisa menangis, marah dan berlari sejauh mungkin untuk bisa melupakan hal ini.
Ketika
aku berlari di kesepian jalan, aku melihat cahaya yang begitu menyilaukan
mataku dan setelah itu aku hanya mendengar jerit tangis dari telingaku, semakin
lama aku merasakan dingin yang berselimut di tubuhku, hanya melihat gelap dan
hanya kesunyian yang ada di sekitarku. Semakin lama tiba – tiba aku melihat
sosok wajah yang aku kenal.
“tidaaaaak…”
aku
merasakan tubuhku kaku, hanya bisa terbaring terpejam, apa yang terjadi pada
diriku? Aku dapat melihat orang tuaku, sahabat – sahabatku dan perawat –
perawat itu, tetapi mengapa aku tidak bisa melihat diriku sendiri? Apa aku
koma?
Iya,
aku mengalami koma setelah tertabrak seorang yang mengendarai sepeda motor,
ketika aku berlari di jalanan. Aku sedikit beruntung karena Tuhan mengizinkan
ruhku bebas dari raganya. Namun, secara medis aku masih dikatakan hidup,
mungkin terdengar sedikit aneh tapi itulah yang terjadi padaku.
“Pa,
bagaimana anak kita Tommy? Mama takut kehilangan anak satu – satunya, Pa.”
“Ma,
sudah ada dokter yang mengatasi. Jangan khawatir.”
Angin
membawa sebuah suara yang sedikit aku dengar Papa dan Mama sedang berbicara,
aku tidak begitu jelas mendengar karena sebagian kepalaku di tutupi dengan
perban.
Saat
bosan hinggap, terlintas angan untuk beranjak dari depan ragaku dan perempuan sejenak
keliling rumah sakit. Saat aku menelusuri koridor yang sunyi, aku melihat
seorang perempuan yang keluar dari kamarnya, kemudian ia tersenyum kepadaku. Apa
aku mengenalnya? Dan mengapa dia bisa melihatku?
Aku
mulai mendekatinya dan bertanya kepada perempuan itu, akan tetapi dia membawaku
ke sebuah taman di sekita rumah sakit, dia menceritakan semua yang terjadi
padanya, ternyata ia mengalami hal yang sama denganku. Kamipun saling mengenal,
namanya adalah Aika, selama kami masih berpisah dengan raga kami, aku banyak
meng habiskan waktu dengan Aika, entah mengapa ku bisa akrab dengannya, aku tak
bisa jauh darinya, selalu merindukan candanya. Ketika aku merindukannya
melintaskan baying wajahnya dimataku. Aku merasa tersipu malu, ingin tak
mengingatnya namun begitu sulit bagi fikirku dan angan ini untuk melepas
bayangnya.
Saat hujan
turu begitu deras aku hanya termenung memandangi ragaku. Aika menghampiriku
memecah lamunanku, dia mengajaku keluar untuk berjalan – jalan sejenak. Saat kami
berjalan Aika membisik dalam telingaki.
“asalkan
bersama denganmu, aku ikhlas, tidak dapat menyatu lagi dengan ragaku.”
Aku
terkejut saat dia berkata seperti itu, apakah dia memiliki satu rasa yang sama
denganku? Apa dia mencintaiku? Mungkin…
Dan
pada waktu itu pula dia ingin kami berusaha kembali menyatu dengan raga kami
masing – masing, karena dia ingin mencintaiku selayaknya manusia pada umumnya. Aku
tersenyum, aku bahagia mendengar semua ucapannya dan aku setuju dengan apa yang
diucapkannya yaitu menyatu kembali ke raga kami masing – masing, demi Aika dan
keluargaku.
Tak
lama aku terbangun dari komaku, pada saat itu aku merasa terbangun dari tidur
panjang dan seakan ada mimpi yang begitu nyata dalam tidurku. Aku masih terlalu
bingung dengan keadaanku, aku hanya dapat melihat Mama dan Papa tersenyum manis
kepadaku. Beberapa hari di rumah sakit, aku diizinkan pulang oleh dokter, saat
menyusuri koridor rumah sakit, aku melihat seorang perempuan yang sepertinya taka
sing lagi olehku. Sesampainya di rumah aku masih terngiang, terbayang wajah
perempuan itu, ketika aku memejamkan mata seakan aku teringat apa yang telah
terjadi dikala aku koma,,, iya tak salah lagi, perempuan itu adalah Aika,
seseorang yang selalu bersamaku dikala ruhku berpisah dengan ragaku. Aku bergegas
turun dari tempat tidurku pergi menemui Aika di tempat yang telah dijanjikan
meski orang tuaku melarang untuk pergi aku tetap berlari menemui Aika.
Aku
telah berdiri di tempat yang ia janjikan, aku tak melihat seorangpun di tempat
ini hanya setangkai bunga mawar putih dan surat di bawahnya.
“Tommy, teman
ruhku,
Aku berharap engkau tetap menjadi teman ruhku
Dikala benar – benar ruhku terlepas dari raga
ini
Namun sebelum itu terjadi jadilah pendamping
yang nyata
Untuk diriku saat ini hingga nanti.”
Aika
Mulai
hari itu Aika telah menjadi seorang yang begitu sempurna dihatiku begitupun
sebaliknya. Tepat satu bulan dimana aku dan Aika menjadi sepasang kekasih dia
memintaku untuk menemuinya, dengan senang hati aku pergi menemuinya dan dengan
sebuah mawar putih. Saat kami bertemu tiba – tiba dia berkata padaku.
“
Tommy, aku bohong padamu. Sebenarnya aku tidak mencintaimu. Selamat tinggal!”
Ternyata
selama ini dia berbohong padaku, dia memintaku untuk pergi darinya dan
melupakan apa yang telah terjadi diantara kami. Aku terkejut mendengarkannya,
aku marah padanya, semudah inikan dia bberbohong cukup lama denganku?
Dan
sejak kejadian itu dia tak menemuiku lagi, berusaha untuk melupakannya,
membencinya, namun cintanya begitu nyata untuk kurasakan. Hari demi hari
berlalu, kemudian minggu demi minggu terlewatkan tanpanya hingga akhir bulan.
Tepat
di hari ulang tahunku, seseorang yang mengaku kakak Aika, menemuiku dengan
membawa sepucuk surat untukku.
“
kau kah yang bernama Tommy?”
“benar,
siapa anda?”
“saya
kakak Aika. Ada surat untukmu.”
“terimakasih…”
Surat dari
Aika :
“Tommy kekasihku,
Maaf telah pergi meninggalkanmu dengan luka
yang begitu dalam
Perlu kamu tahu, Tommy, saat kamu mengalami
kecelakaan
Hingga akhirnya koma, itu aku yang melakukan
tanpa sengaja
Namun kini Tuhan telah membalasnya
Aku dipisahkan lebih dulu dari ragaku
Ketahuilah, aku pergi bukan berarti cinta ini
ikut terkubur mati
Namun, justru ini menjadikan cinta kita abadi
di dalam hatiku
Pergilah dariku, lupakan aku dan hanya
ingatlah aku dalam mimpimu.”
Aika
Tuhan, Aika berbohong padaku karena dia tak ingin
melihatku lebih luka karena tau dia akan pergi selamanya dariku, dia memilih
melihatku marah dari pada menangis. Ikhlaskah aku, relakah aku dengan apa yang
telah ia lakukan… entahlah!!!
Hingga detik
ini aku masih belajar ikhlas dan rela di meninggalkan aku.
“Aika,
percayalah padaku jika tiba waktunya nanti, ruhku akan menemuimu dengan
perasaan cinta yang tetap sama. Dan kau akan tersenyum padaku karena menjaga
hatiku untuk tetap terhuni cintamu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar