Pages

Senin, 03 September 2012

Dikala Ruhku Bertemu Dengannya

DIKALA RUHKU BERTEMU DENGANNYA…

Aku adalah siswa SMA yang baru masuk, tidak semua siswa bernasib buruk sepertiku.
Semua ini berawal dari 1 tahun yang lalu, ketika aku baru saja mengalami korban keegoisan orang tua. Entah mengapa mereka memilih perceraian sebagai solusinya. Hari itu, perasaanku sangat kalut dan aku tak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa menangis, marah dan berlari sejauh mungkin untuk bisa melupakan hal ini.
Ketika aku berlari di kesepian jalan, aku melihat cahaya yang begitu menyilaukan mataku dan setelah itu aku hanya mendengar jerit tangis dari telingaku, semakin lama aku merasakan dingin yang berselimut di tubuhku, hanya melihat gelap dan hanya kesunyian yang ada di sekitarku. Semakin lama tiba – tiba aku melihat sosok wajah yang aku kenal.
“tidaaaaak…”
aku merasakan tubuhku kaku, hanya bisa terbaring terpejam, apa yang terjadi pada diriku? Aku dapat melihat orang tuaku, sahabat – sahabatku dan perawat – perawat itu, tetapi mengapa aku tidak bisa melihat diriku sendiri? Apa aku koma?
Iya, aku mengalami koma setelah tertabrak seorang yang mengendarai sepeda motor, ketika aku berlari di jalanan. Aku sedikit beruntung karena Tuhan mengizinkan ruhku bebas dari raganya. Namun, secara medis aku masih dikatakan hidup, mungkin terdengar sedikit aneh tapi itulah yang terjadi padaku.
“Pa, bagaimana anak kita Tommy? Mama takut kehilangan anak satu – satunya, Pa.”
“Ma, sudah ada dokter yang mengatasi. Jangan khawatir.”
Angin membawa sebuah suara yang sedikit aku dengar Papa dan Mama sedang berbicara, aku tidak begitu jelas mendengar karena sebagian kepalaku di tutupi dengan perban.
Saat bosan hinggap, terlintas angan untuk beranjak dari depan ragaku dan perempuan sejenak keliling rumah sakit. Saat aku menelusuri koridor yang sunyi, aku melihat seorang perempuan yang keluar dari kamarnya, kemudian ia tersenyum kepadaku. Apa aku mengenalnya? Dan mengapa dia bisa melihatku?
Aku mulai mendekatinya dan bertanya kepada perempuan itu, akan tetapi dia membawaku ke sebuah taman di sekita rumah sakit, dia menceritakan semua yang terjadi padanya, ternyata ia mengalami hal yang sama denganku. Kamipun saling mengenal, namanya adalah Aika, selama kami masih berpisah dengan raga kami, aku banyak meng habiskan waktu dengan Aika, entah mengapa ku bisa akrab dengannya, aku tak bisa jauh darinya, selalu merindukan candanya. Ketika aku merindukannya melintaskan baying wajahnya dimataku. Aku merasa tersipu malu, ingin tak mengingatnya namun begitu sulit bagi fikirku dan angan ini untuk melepas bayangnya.
Saat hujan turu begitu deras aku hanya termenung memandangi ragaku. Aika menghampiriku memecah lamunanku, dia mengajaku keluar untuk berjalan – jalan sejenak. Saat kami berjalan Aika membisik dalam telingaki.
“asalkan bersama denganmu, aku ikhlas, tidak dapat menyatu lagi dengan ragaku.”
Aku terkejut saat dia berkata seperti itu, apakah dia memiliki satu rasa yang sama denganku? Apa dia mencintaiku? Mungkin…
Dan pada waktu itu pula dia ingin kami berusaha kembali menyatu dengan raga kami masing – masing, karena dia ingin mencintaiku selayaknya manusia pada umumnya. Aku tersenyum, aku bahagia mendengar semua ucapannya dan aku setuju dengan apa yang diucapkannya yaitu menyatu kembali ke raga kami masing – masing, demi Aika dan keluargaku.
Tak lama aku terbangun dari komaku, pada saat itu aku merasa terbangun dari tidur panjang dan seakan ada mimpi yang begitu nyata dalam tidurku. Aku masih terlalu bingung dengan keadaanku, aku hanya dapat melihat Mama dan Papa tersenyum manis kepadaku. Beberapa hari di rumah sakit, aku diizinkan pulang oleh dokter, saat menyusuri koridor rumah sakit, aku melihat seorang perempuan yang sepertinya taka sing lagi olehku. Sesampainya di rumah aku masih terngiang, terbayang wajah perempuan itu, ketika aku memejamkan mata seakan aku teringat apa yang telah terjadi dikala aku koma,,, iya tak salah lagi, perempuan itu adalah Aika, seseorang yang selalu bersamaku dikala ruhku berpisah dengan ragaku. Aku bergegas turun dari tempat tidurku pergi menemui Aika di tempat yang telah dijanjikan meski orang tuaku melarang untuk pergi aku tetap berlari menemui Aika.
Aku telah berdiri di tempat yang ia janjikan, aku tak melihat seorangpun di tempat ini hanya setangkai bunga mawar putih dan surat di bawahnya.
“Tommy, teman ruhku,
  Aku berharap engkau tetap menjadi teman ruhku
  Dikala benar – benar ruhku terlepas dari raga ini
  Namun sebelum itu terjadi jadilah pendamping yang nyata
  Untuk diriku saat ini hingga nanti.”

Aika

Mulai hari itu Aika telah menjadi seorang yang begitu sempurna dihatiku begitupun sebaliknya. Tepat satu bulan dimana aku dan Aika menjadi sepasang kekasih dia memintaku untuk menemuinya, dengan senang hati aku pergi menemuinya dan dengan sebuah mawar putih. Saat kami bertemu tiba – tiba dia berkata padaku.
“ Tommy, aku bohong padamu. Sebenarnya aku tidak mencintaimu. Selamat tinggal!”
Ternyata selama ini dia berbohong padaku, dia memintaku untuk pergi darinya dan melupakan apa yang telah terjadi diantara kami. Aku terkejut mendengarkannya, aku marah padanya, semudah inikan dia bberbohong cukup lama denganku?
Dan sejak kejadian itu dia tak menemuiku lagi, berusaha untuk melupakannya, membencinya, namun cintanya begitu nyata untuk kurasakan. Hari demi hari berlalu, kemudian minggu demi minggu terlewatkan tanpanya hingga akhir bulan.
Tepat di hari ulang tahunku, seseorang yang mengaku kakak Aika, menemuiku dengan membawa sepucuk surat untukku.
“ kau kah yang bernama Tommy?”
“benar, siapa anda?”
“saya kakak Aika. Ada surat untukmu.”
“terimakasih…”
Surat dari Aika :
            “Tommy kekasihku,
  Maaf telah pergi meninggalkanmu dengan luka yang begitu dalam
  Perlu kamu tahu, Tommy, saat kamu mengalami kecelakaan
  Hingga akhirnya koma, itu aku yang melakukan tanpa sengaja
  Namun kini Tuhan telah membalasnya
  Aku dipisahkan lebih dulu dari ragaku
  Ketahuilah, aku pergi bukan berarti cinta ini ikut terkubur mati
  Namun, justru ini menjadikan cinta kita abadi di dalam hatiku
  Pergilah dariku, lupakan aku dan hanya ingatlah aku dalam mimpimu.”
Aika
Tuhan,  Aika berbohong padaku karena dia tak ingin melihatku lebih luka karena tau dia akan pergi selamanya dariku, dia memilih melihatku marah dari pada menangis. Ikhlaskah aku, relakah aku dengan apa yang telah ia lakukan… entahlah!!!
Hingga detik ini aku masih belajar ikhlas dan rela di meninggalkan aku.
“Aika, percayalah padaku jika tiba waktunya nanti, ruhku akan menemuimu dengan perasaan cinta yang tetap sama. Dan kau akan tersenyum padaku karena menjaga hatiku untuk tetap terhuni cintamu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar